Selasa, 06 Desember 2011

Perternakan In Sragen

Usahan Perternakan Pegemukan sapi di sragen.

Usaha penggemukan sapi potong memiliki prospek cerah karena beberapa negara Asean kini lebih menyukai sapi potong dari Indonesia. Peluang membuka peternakan masih terbuka lebar mengingat ketersediaan padang rumput sangat luas. Pengembangan sapi perah juga tidak kalah menariknya sebagai salah satu peluang investasi. Semakin besarnya minat masyarakat mengkonsumsi susu membuka peluang pasar yang sangat menjanjikan. Hingga saat ini wilayah eks-karesidenan Surakarta belum berdiri satupun Pabrik Susu. Padahal ketersediaan bahan baku sangat potensial untuk menopang berdirinya pabrik susu. Disamping sapi potong dan sapi perah, di Sragen banyak dijumpai kambing, domba, unggas seperti ayam kampung, ayam ras, itik, itik manila dan angsa. Produksi daging relatif stabil sementara produksi telur menunjukan gejala peningkatan.sudah banyak sekarang para penduduk sragen sendiri mulai usaha penggemukan sapi mulai dari perternakan sampai penduduk di perumahan.banyak juga para penduduk di kota sragen memaanfaatkan usaha ini biarpun usaha ini bersifat sampingan maupun permanen.

Wisata Balapan Kuda Nyi Ageng Serang In Sragen.


Sragen-Arena pacuan kuda Nyi Ageng Serang terletak di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang. Lintasan sepanjang 600 meter itu hanya berjarak 1,5 kilometer dari tepian waduk Kedung Ombo.


Akses menuju lintasan pacuan kuda Nyi Ageng Serang relatif mudah. Arena pacuan kuda itu berjarak 30 kilometer dari pusat kota Kabupaten Sragen dan dapat ditempuh selama 40 menit dengan mengendarai mobil. Dari Semarang, pungunjung dapat melewati jalur alternatif Salatiga-Karanggede-Gemolong-Sumberlawang. Dari Surakarta (Solo), pengunjung dapat mengambil rute Solo-Purwodadi dan berbelok ke barat ketika memasuki daerah Sumberlawang. Lokasi pacuan Kuda berada lima kilometer dari jalan raya Solo-Purwodadi


Keberadaan arena pacuan kuda di Ngasinan membawa perubahan pada wajah desa. Jalan hotmix sepanjang lima kilometer kini membelah dari pusat Kecamatan Sumberlawang hingga ke pedesaan. Memudahkan arus transportasi dan perdagangan. Penerangan jalan dan fasilitas air bersih kini tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai.


Kegiatan masyarakatpun lebih beragam. Penduduk setempat membuka penginapan atau homestay di rumahnya bagi pengunjung yang ingin bermalam. Warung-warung makan dengan menu khas pedesaan juga siap memanjakan lidah siapapun yang datang.


Warung makan di desa ini tergolong unik. Warung tersebut menyatu dengan rumah penduduk dan posisinya berada dekat pintu depan. Menu yang tersaji benar-benar masakan rumah tangga dengan sentuhan bumbu khas desa. Juru masaknya tak lain adalah para wanita pedesaan yang masih mempertahankan resep tradisional warisan orang tua mereka. Dengan demikian, suasana pedesaan kental terasa.

Saat ini tengah disusun rute untuk wisata menunggang kuda (horse riding). Di pacuan telah tersedia empat kuda hasil persilangan antara kuda Eropa dan lokal. Tunggangan ini siap digunakan berkuda mengelilingi perbukitan dan lembah di sekitar arena pacuan dan waduk Kedung Ombo. Pengunjung yang belum pernah naik kuda tidak perlu khawatir. Pengelola pacuan kuda menyediakan pemandu dan sekaligus melatih pengunjung menunggang kuda.

Fasilitas komplek pacuan kuda juga lengkap. Selain lintasan pacuan area pit stop dan tribun yang representatif untuk pertandingan internasional, juga terdapat istal atau stable yang terjamin kebersihannya. Stable itu ditangani oleh perawat kuda professional. Sehingga para pemilik kuda dapat menitipkan kuda-kuda tersebut untuk mendapat penanganan yang berkualitas.

Astana Giri Bangun In Karanganyar.


Astana Giri Bangun adalah sebuah pemakaman yang terletak di sebelah timur kota Surakarta, Indonesia, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35 km dari Surakarta..
Istri presiden Indonesia, Soeharto, Ibu Tien, dimakamkan di sini.

Situs pemakaman ini dirancang untuk dipakai oleh seluruh keluarga Pak Harto. Pada saat pembangunannya dimulai, jauh sebelum Ibu Tien Suharto wafat, telah menuai badai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. sehingga diisyukan bahwa liang-liang lahat yang dipersiapkan untuk peristirahatan terakhir itu dilapisi dengan emas maupun perak. pada hal pada saat yangsama (saat itu) keadaan ekonomi rakyat sedang tidak membaik. Astana Giri Bangun, komplek makam khusus keluarga Yayasan Mangadeg Surakarta, dibangun tahun 1974. Lokasinya di atas Bukit Giribangun yang puncaknya dikenal sebagai Bukit Mangadeg. Di puncak bukit ini terdapat makam raja-raja Mangkunegaran, Surakarta. Termasuk makam Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara II, III, dan VIII.
Beratap joglo -- khas bangunan rumah Jawa -- luas seluruh bangunan
sekitar 200 meter persegi. Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan
cungkup. Cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan atapnya
menjulang paling tinggi. Di bawahnya, terdapat cungkup Argo Kembang,
dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh.
Jenazah Ibu Tien akan dimakamkan di bawah cungkup Argo Sari. Di situ
telah pula dimakamkan ayahanda Ibu Tien, KRMTH Soemoharjmo, ibunda Bu
Tien KRA Soemoharjomo, dan kakak perempuan Bu Tien, RA Siti Hartini
Odang. Makam Ibu Tien terletak satu deretan dengan makam-makam
tersebut, dan berdampingan dengan lokasi yang disiapkan untuk makam
Pak Harto kelak.
Cungkup Argo Sari disangga oleh empat tiang utama, terbuat dari beton
yang dilapis kayu ukiran Jepara. Pada tiang-tiang yang terkesan kokoh
itu, dilengkapi cincin-cincin logam berwana kuning. Cincin inilah yang
dulu pernah diisukan terbuat dari bahan emas. Sukamdani Sahid
Gitosarjono, ketua harian Yayasan Mangadeg, meluruskan isu ini. "Yang
benar, terbuat dari tembaga yang diasah," ujar pimpinan New Sahid
Builders yang dipercaya membangun komplek makam ini.
Menurut Sukamdani, tembaga yang dipergunakan untuk hiasan di kompleks
makam senilai (waktu itu) Rp 450 juta. Marmer untuk lantai,
didatangkan dari Tulungagung. Di atas marmer berwarna krem itu,
terhampar karpet coklat. Dengan wafatnya Ibu Tien, Astana Giri Bangun
telah terisi empat belas makam. Empat makam (termasuk makam Bu Tien)
terletak di bawah cungkup Argo Sari, dan sepuluh lainnya berada di
bawah cungkup Argo Kembang dan cungkup Argo Tuwuh. Menurut Sukamdani
S. Gitosardjono, ketiga jenis cungkup menggambarkan filsafat siklus
kehidupan yang tumbuh, berkembang, dan bersiap memenuhi panggilan Yang
Maha Pencipta. Penentuan lokasi di atas bukit, lanjutnya, agar tidak
mengganggu atau diganggu masyarakat sekitar. Astana Giri Bangun memang
satu-satunya bangunan di puncak bukit itu, dengan latar belakang
pepohon hijau yang lebat. Jalan menuju kompleks makam tidak terlalu
lebar, menanjak dan berkelok-kelok.
Kompleks makam juga dilengkapi bangunan pendukung di sekelilingnya.
Ada paseban selatan, paseban timur, dan di sebelah barat disediakan
bangunan paintry dan sebuah musholla, juga rumah untuk juru kunci
makam.
Hari-hari ini, Astana Giri Bangun menjadi pusat perhatian. Di sini
telah bersemayam salah satu putra terbaik bangsa ini. Suara tahlil
yang terdengar sambung menyambung, seolah tidak hanya terlantun dari
mulut puluhan orang yang khusyuk tafakkur di seputar cungkup Argo
Sari, tapi juga dari rindang pepohonan yang menaungi komplek ini.

Budaya Jawa Tengah Via Pekasa


SRAGEN - Bertempat di Rumah KRT Muharjo Hadinagara, Beloran Sragen, Paguyuban Kawula Keraton Surakarta ( Pakasa ), Minggu (25/11) mengadakan pertemuan anggota dan warga Pakasa. Pakasa Cabang Sragen didirikan bulan Februari 2007 lalu. Sampai saat ini telah memiliki anggota kurang lebih 225 orang. Menurut KP Edy Wirabhumi sewaktu mengukuhkan Pakasa 9 bulan lalu mengatakan bahwa para pengurus, anggota dan warga Pakasa ini dapat menjadi ujung tombak pelestarian dan pengembangan budaya jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta Hadiningrat di Sragen.

Keraton Surakarta sebagai kesatuan ikatan trah Mataram mempunyai kewajiban untuk melestarikan nilai-nilai tradisi budaya Jawa. Budaya juga sebagai salah satu saka guru sebuah negara. Jika seseorang memiliki kecintaan dan dedikasi tinggi pada budaya, berarti dia juga mencintai negaranya.

Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dan warga serta calon warga Pakasa Cabang Sragen. Menurut Wahyu Widayat, SH, Msi, sewaktu memberikan sambutan dalam pertemuan minggu itu, mengajak para anggota Pakasa untuk selalu menguri-uri budaya jawa yang adi luhung. Para anggota dan warga Pakasa juga di harapkan dapat memberikan sumbang saran dalam upaya melestarikan budaya jawa yang bersumber di keraton. Budaya Jawa merupakan warisan leluhur yang wajib dilestarikan.

Senada dengan Wahyu Widayat, Kepala Dinas Pendidikan Gatot Supadi mengatakan, atas nama pemerintah dia menyambut baik upaya Pakasa dalam nguri-uri budaya jawa. Dalam budaya jawa, banyak pelajaran yang dapat dipetik untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Gatot Supadi, dalam hidup bermasyarakat diperlukan tata krama, unggah-ungguh, dengan mendalami budaya jawa yang adi luhung, yang di implementasikan dalam setiap cipta rasa dan karsa, maka seseorang akan mudah diterima dalam lingkungan masyarakat.

Gatot Supadi mengharapkan Pakasa dapat memberikan andil dalam upaya memajukan pendidikan budaya di Kabupatren Sragen. Anggota Pakasa yang sebagian besar sudah berusia menengah ke atas dan sudah cukup matang dalam mendalami budaya jawa, di harapkan dapat mewariskan pengetahuan dan memberikan didikan kepada generasi muda sebagai penerus.

Gatot Supadi menambahkan, anggota Pakasa juga diharapkan untuk selalu meningkatkan keahlian dan kemampuannya, seperti belajar Pranoto coro, dan masih banyak pelajaran budaya jawa yang dapat kita pelajari.

Dalam acara tersebut diadakan potong tumpeng oleh eyang Slamet Basuki. Potong tumpeng diserahkan ke Wahyu Hidayat dan Gatot Supadi. Selanjutnya di serahkan ke semua peserta Pakasa yang hadir.

Senin, 21 November 2011

Tourism Waduk Gajah Mungkur In Wonogiri


Waduk Gajah Mungkur located in 35 km to south from Solo direction, precisely in wonogiri regency. Territorial water of this artificial lake finish region for the width of 7 subdistrict. Start builded in end of 1970 and start to operate on 1978. Ex of Resident which their palce used for this lake removing with transmigration " Bedhol Deso " to Sitiung, regional of bengkulu Provinsi . Representing one tourism object pledge of Wonogiri. Waduk Gajah Mungkur width is 83 km2 and used to accomodate overflowing water of the rain every year, as well as as source to irrigate rice field. Experienced view around the Waduk Gajah Mungkur is very beautiful. There are recreation water in this location likes fishing, jet propulsion ski, tourism boat and surfboard . The Others all of that, you can also enjoy to sport float to drape ( Gantole). In Waduk Gajah Mungkur there a hill which is by citizen of Wonogiri referred as " Bukit Hollywood ".

Candi Mendut (Mendut Temple) In Magelang.






Candi Mendut (Mendut Temple) is 3 kilometers eastward from Borobudur Temple. It is a Buddhist temple, built in 824 A.D. by King Indera of Cailendra dynasty.

There are three big statues inside, they are:
Cakyamuni sitting in cross legged pose with dharma cakra mudra (= turning the wheel of dharma hand pose)
Awalokiteswara, a bodhi satwa as human being helper.
Awalokiteswara is a statue with Amitabha on her crown, Vajrapani. She is holding a red lotus and put on her palm.
Maitreya, a savior of human beings in the future.

There are stories for children on its walls.

Candi Mendut (Mendut Temple) is frequently used to celebrate the Waisak day every May full moon and the pilgrims from Indonesia and all parts of the world come to this ceremony.

It is older than Candi Borobudur. Its architecture is square, and having an entrance on its steps. Its roof is also square and terraced. There are stupas (= bell-shaped structures) on it.

original link : http://www.yogyes.com/en/yogyakarta-tourism-object/candi/mendut/

Prambanan Tample In Jogja - Klaten.




Prambanan Temple is located some 17 km from Yogyakarta. Tourists can't miss the temple because it is only a hundred meters off the main street. The Sanjaya Dynasty built this 47 meters high Hindu temple in the 9th century. It consists of three courtyards. The main temple is located in the inner courtyard and surrounded by several small temples called "perwara" temples. Local chieftains, as a token of their acquiescence to the king, contributed some of these.
As a Hindu temple the main temple has three shrines, dedicated to the Hindu trinity. Ciwa, Vhisnu, and Brahma. Each of these shrines is facing a smaller shrine for their vehicles. The cow Nandi is the vehicle of Ciwa the Destroyer God. The eagle Garuda is the vehicle of Vhisnu the Guardian God. And the swan Angsa is the vehicle of Brahma the Creator God.
Entering the main temple from the north, one will find a statue of a very beautiful princess, Roro Jonggrang. According to the legend, Roro Jonggrang was the daughter of King Boko, which was cursed into a statue. The legend also says that a young powerful man named Bandung Bondowoso wanted to marry Roro Jonggrang. Since she doesn't love him, Roro Jonggrang tried to avoid the marriage by asking Bandung Bondowoso a present. She would only marry him if Bandung were really a powerful man. To prove the power Bandung was asked to build a thousand temples in one night. Having supernatural power, Bandung has almost successfully finished his task, but Roro Jonggrang prevents this excellent achievement. Jonggrang asked the maidens of the east village of the temples to burn the hay and pound the rice in order to cause the situation like dawn time for sunrise.
So when the cocks begin to crow, all the supernatural beings flee away because they think it was already dawn. Being unable to control his anger, Bandung Bondowoso curses Roro jonggrang into a statue that now completes the temple. The relief carved around the foot of Civa Temple depicts heavenly creatures, symbolizing the cosmic system. Entering the temple from the east and walking around the sub base of the temple with the main shrine on the right (Pradaksina). Tourists will see the whole relief of the story of the Brahma Temple. The story of Kresnayana, which tells the childhood of Prabu Kresna, can be seen on the balustrade of the Vishnu Temple.
From May-October, at full moon, the Story of Ramayana is usually presented in the evening from 19.30-21.30. Being a traditional dance, it is performed on an open-air stage to the west of the temple.